JATENGINSIGHT.COM – Sikap-sikap kepahlawanan di sekitar kita mesti diorkestrasi. Tanpa itu, kesadaran bahwa setiap individu dapat menjadi pahlawan sesuai kapasitas masing-masing akan memudar.
Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Prof HM Mukhsin Jamil mengatakan, Tanpa diorkestrasi, kita akan kesulitan mencari sosok-sosok yang peduli pada persoalan lingkungan.
Lalu, siapa yang mestinya mengorkestrasi sikap-sikap kepahlawanan? Menurut Prof Mukhsin, banyak yang dapat mengorkestrasi. Mulai dari organisasi sosial baik berbasis agama, ekonomi ataupun sosial.
“Bisa juga simpul-simpul komunitas, paguyuban warga, PTN/PTS. Dan, utamanya sebenarnya pemerintah. Mereka memiliki tanggung jawab lebih untuk itu,” ujar Prof Mukhsin.
Prof Mukhsin mencontohkan, di lingkungan Rukun Warga (RW) tempat tinggalnya sudah muncul kesadaran tentang pentingnya kesadaran merespons perubahan iklim. Sehingga, saat ini, warga giat menggagas kampung pro iklim.
“Dan, siapa yang menginisiasi itu? Jamaah ngaji di tempat saya. Artinya, semua elemen mestinya bisa mengorkestrasi. Kalau mau.” Ujarnya.
Mengenai sikap kepahlawan itu seperti apa? Menurut Prof Mukhsin, setidaknya memenuhi 3 kriteria. Yakni, the giving mindset, best creation, dan impactful. The giving mindset artinya pahlawan adalah orang yang selalu berpikir memberi. Ketika melakukan apapun, mindset-nya adalah memberikan yang terbaik. Best creation artinya, seorang pahlawan selalu berpikir memberikan karya yang terbaik untuk sekitarnya. Impactful artinya, perbuatan dari pahlawan adalah memberi dampak bagi orang lain, pada masyarakat, bangsa, dan negara.
“Belajar dari sosok Pak Sururi dan Ibu Ika. Sesungguhnya untuk menjadi pahlawan bukan dilihat dari siapa mereka. Atau apa jabatan dan kedudukan mereka. Tetapi, dari apa yang mereka berikan untuk lingkungan tanpa pamrih,” ujarnya.
Lalu, bagaimana cara mengembangkannya? Prof Mukhsin menjelaskan, dengan cara menanamkan sikap kepahlawanan sejak dini. Mulai dari hal-hal sederhana dan kecil sejak di keluarga dan lingkungan masing-masing. Praktik baik itu bisa dimulai dengan tidak buang sampah sembarangan.
Prof Mukhsin memberi catatan, yang terpenting dari sikap-sikap kepahlawanan dan dampak yang mereka lakukan adalah keistiqomahan atau kontinu. “Bagaimana tekad untuk memberi dampak positif itu tak mudah. Bukan berkaitan dengan program itu, tapi siapa yang nanti akan meneruskan. Menjaga kelestarian itu tak gampang,” tandas Prof Mukhsin.
