Pegiat Lingkungan Ajak Anak Muda Ciptakan Tren Aksi Lingkungan

Baca Juga

JATENGINSIGHT- Pegiat lingkungan ajak generasi muda manfaatkan medsos untuk terlibat aktif dalam aksi lingkungan. Ini sebagai wujud kepedulian manusia terhadap bumi—sebagai tempat yang ditinggali yang semakin menua. Upaya menjaga lingkungan juga mesti ditanamkan sejak dini dan dimulai dari komunitas terkecil masing-masing, mulai dari keluarga hingga masyarakat sekitar.

Ika Yudha Kurniasari  yang merupakan Penggagas Bank Sampah Resik Becik Kota Semarang menyebut,  di era saat ini, upaya penyadaran terhadap isu lingkungan mesti menyasar generasi muda. Karena masa depan bumi ada di tangan mereka juga kelak. Sebagai orang tua mesti menjadi teladan baik. Danm hal itu tak cukup, mesti juga membangun gerakan penyadaran lebih luas.

Untuk itu, di era media sosial sekarang ini, –sesuai dengan situasi zaman, anak-anak muda  diajak terlibat dalam penyelamatan lingkungan dengan memanfaatkan media sosial.

Baca Juga:  Cegah Berbagai Penyakit, Pemerintah Wajibkan Label Gizi untuk Makanan-Minuman Siap Saji

“Mari kita ajak anak-anak muda untuk  menciptakan tren baru dalam aksi lingkungan!” ajak Ibu Ika yang seolah menantang anak-anak muda yang hadir di lokasi.

Beberapa tren yang bisa diciptakan itu, menurut Ibu Ika, antara lain: habiskan isi piringmu atau jangan sisakan makanan di piringmu, hingga gerakan memakai sapu tangan bukan tisu. Menurut Ika, gerakan jangan sisakan makanan di piring ini penting. Sebab, saat ini, Indonesia menjadi negara pembuang sampah makanan no 3 terbesar di dunia.

“Sebagai negara yang membuang sampah plastik terbesar di dunia kita kedua, dan untuk sampah makanan, kita nomor tiga,” ujar Ibu Ika dengan nasa geram.

Sementara, gerakan memakai sapu tangan juga penting. Sebab, kebanyakan orang saat ini memakai tisu. Padahal, bahan baku tisu itu pohon. Semakin banyak tisu dipakai, semakin banyak pohon ditebang!  “Siapapun bisa jadi pahlawan dengan melakukan gerakan ini. Ini upaya menyelamatkan bumi dengan gerakan sederhana,” tutur Ibu Ika.

Baca Juga:  Prabowo Minta Jajarannya Kaji Skenario WFH dan Pengurangan Hari Kerja Warga RI untuk Tekan Konsumsi BBM Jika Krisis Terjadi

Ika mengilustrasikan, belajar dari Film The Avengers. DI film itu, sosok hero atau pahlawan bagi bumi banyak. Ini artinya, kita sekarang butuh banyak pahlawan di lingkungan masing-masing. Semua orang mesti bergerak.  “Namun, tantangan sekarang adalah bisa tidak kita mengajak banyak orang untuk peduli dan terlibat pada persoalan lingkungan?” tandasnya. 

Ika merintis Bank Sampah Resik Becik (BSRB) Semarang sejak tahun 2011. Kegiatan saat merintis ia lakukan bersama beberapa ibu tetangganya dengan kegiatan kreasi manik-manik dan rajut. Hal itu kemudian berlanjut dengan  mengelola sampah plastik dari rumah tangga seperti bungkus mi instan, kopi, plastik tepung, dan lain sebagainya. Dari sampah-sampah itu kemudian  dibuat tas belanja, dan sebagainya. “Ini seperti jalan takdir bagi saya,” kata Ika

Baca Juga:  Urai Macet di Gilimanuk, Pemerintah Kerahkan Kapal Besar hingga Percepat Waktu Sandar

Saat ditanya inspirasinya dari mana? Ika bercerita, semua bermula dari buku. Ia terkenang, pada suatu waktu—saat suntuk, sebagai hiburan, ia jalan-jalan ke toko buku. Dan di situ ia menemukan sebuah buku yang baginya menarik. Judulnya, Kreasi Sampah.

“Saya healing paling suka ke toko buku. Nah, saya nemu buku judulnya Kreasi Sampah. Dari situ, kemudian saya belajar dan mempraktikannya bersama ibu-ibu di kampung Krobokan Semarang. Memanfaatkan sampah dari dapur sendiri. Dari buku, kemudian eksis hingga sekarang,” tandas Ibu Ika.

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini