JATENGINSIGHT.COM – Pemerintah provinsi Jawa Tengah Bersama Bank Indonesia menggelar central Jawa fish market 2024 dihalaman kantor gubernur Jateng, selasa (12/11). Kegiatan yang dilakukan untuk memperingati hari ikan nasional ini diikuti oleh 53 usaha mikro kecil menengah (UMKM) pengolahan ikan.
Kepala dinas kelautan dan perikanan Jawa Tengah, Fendiawan Tiskiantoro mengatakan, melalui kegiatan ini diharapkan tingkat konsumsi ikan masyarakat di Jawa tengah bisa meningkat. Saat ini tercatat tingkat konsumsi ikan di wilayah ini baru mencapai 39,8 kg perkapita pertahun.
“Idealnya untuk anak – anak 300 gram perminggu. Ini tugas dari ibu – ibu ini supaya meningkatkan konsumsi ikan,”ujarnya
Ia mengakui tantangan untuk meningkatkan konsumsi ikan di wilayah Jawa Tengah adalah berupa budaya masyarakat yang tidak terbiasa makan ikan. Untuk itu diperlukan sosialisasi terus menerus untuk membangun minat masyarakat makan ikan.
“jujur saja tingkat konsumsi ikan di Jawa tengah lebih rendah dari Jawa barat dan jawa timur. Dari 35 kabupaten/kota konsumsi ikannya diatas 40 kg itu ada di pantura. Tapi kabupaten/kota yang ditengah – tengah hanya 20-25 kg ,” ungkapnya
Fendi menambahkan, produksi ikan di Jawa Tengah saat ini mencapai 940 ribu ton, yang berasal dari budidaya maupun tangkap. Namun demikian dari jumlah tersebut baru 20-30 persen yang dikonsumsi untuk wilayah Jawa Tengah, sementara sisanya dikirim keluar wilayah seperti Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan Lampung.
“memang persoalan ikan adalah persoalan market. Di Jawa Tengah belum begitu banyak, sementara di luar jateng itu cukup besar,” ungkap Fendi
Sementara itu kepala kantor perwakilan BI Jateng, Rahmat Dwisaputra mengatakan, potensi perikanan di Jateng saat ini menempati peringkat keenam secara nasional. Tercatat industry pengolahan menyumbang 13,51 persen produk domestic regional bruto (PDRB) Jateng.
“Pada triwulan tiga sector pertanian kehutanan termasuk perikanan, itu sebesar 13,51% tertinggi kedua setelah sector pengolahan. Bahkan di sector pengolahan yang kontribusinya 33,51% persen itu didalamnya ada olahan ikan,” ujarnya
Rahmat menyebut dengan meningkatnya konsumsi ikan di masyarakat maka akan berkontribusi untuk mengendalikan inflasi. Karena ini akan menggantikan konsumsi i daging dan telur ayam ras yang sering menjadi salah satu penyumbang inflasi di Jateng.
“Ayam ras dan telur ayam ras sering menjadi menempati makanan penyumbang inflasi. Dengan menggalakan makan ikan, maka bisa mengimbangi tekanan inflasi dari daging ayam ras maupun telur ayam ras,” ungkapnya
