JATENGINSIGHT-Kisah Sora, Raya, dan Danna dalam novela Soraya menyajikan muatan berlapis. Meski tipis, novela yang mengisahkan pergolakan batin perempuan yang menghadapi toxic maskulinitas dari sosok ayah ini dinilai memang patut mendapat predikat tiga besar Buku Sastra Pilihan Tempo 2024 kategori Prosa.
Demikian perbincangan mengemuka dalam Obrolan Novela Soraya karya Iin Farliani yang diselenggarakan Komunitas Lerengmedini (KLM), Minggu (26/01) pagi. Sebagai narasumber, Yozar Firdaus Amrullah, novelis, penasihat Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI), dan dosen Bahasa Inggris Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang. Acara dipandu Anis Hidayati, koordinator KLM. Sebelum diskusi, terlebih dahulu dibacakan petilan novel Soraya pada bagian awal. Petilan dibaca oleh Siraj Lintang, guru cum penyair yang aktif bergiat di KLM.
Anis menyampaikan, KLM mengupas novela Soraya karena beberapa pertimbangan. Di antaranya, novela ini ditulis penulis muda asal Kota Mataram Lombok NTB yang produktif mencipta fiksi, baik prosa maupun puisi. Beberapa karyanya juga mendapat apresiasi. Novela Soraya tercatat nilah sebagai pemenang Harapan II pada Sayembara Novela yang diadakan Penerbit Basabasi bertema “Psikoteks” 2023. Dan, baru-baru ini Soraya, masuk 3 besar nomine Buku Sastra pilihan Tempo 2024 kategori prosa.
Soraya menceritakan kehidupan kakak beradik Sora dan Raya di antara dominasi sosok “otoriter” ayahnya. Hadir pula di tengah konflik batin tersebut sosok anak muda bernama Danna, kawan masa kecil Sora. Hidup Sora berubah sejak kakak lelakinya, Raya, dirawat di rumah sakit jiwa. Dia menilik ulang biografi keluarganya, menemukan bahwa akar permasalahannya adalah toksik maskulinitas dalam diri ayahnya yang mempengaruhi sendi-sendi kehidupan keluarga mereka sejak Sora dan Raya masih kanak-kanak.
Dalam situasi kebatinan yang dialaminya, Sora melakukan perbandingan antara sifat maskulin yang ditunjukkan Raya sejak remaja dan sifat feminin yang dia temukan dalam diri Danna, kawan masa kecilnya. Bagi Sora, Danna adalah perwujudan ideal tentang kekuatan dan kelembutan yang dia dambakan sejak dulu. Tanpa ia sadari, dalam proses perbandingan itu, ia pun sedang mencari tempatnya sebagai seorang perempuan di antara kedua jenis lelaki itu.
“Saya pribadi saya suka novel ini. Meski tipis, tapi berbobot,” ujar Anis, mengawali obrolan di hadapan peserta yang hadir di Gedung Sastra & Sosial Guyub Jl Franz Kafka Krajan Bebengan Boja Kendal Jawa Tengah.
Senada dengan Anis, Yozar pun mengapresiasi novel Soraya. Menurutnya, novela ini cukup mudah dipahami dan terdapat banyak makna muatan di dalamnya. Meski demikian, ada sejumlah catatan dalam pembacaan novel ini.
Yozar menyampaikan, dalam suatu cerita fiksi, penyampaian pesan terdiri dari dua unsur, yaitu narasi dan dialog. Narasi artinya bagaimana kisah disampaikan dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, orang ketiga atau dengan teknik lain. Sedangkan dialog berarti interaksi , ucapan antartokoh dalam cerita.
Dari komposisi, menurut Yozar, novela ini lebih banyak pada porsi narasi. Artinya, apa yang dirasakan , dipikirkan, dan tindakan para tokoh diceritakan. Lebih banyak tell-nya daripada show-nya. Sesuatu yang terbailik dari tips untuk membuat cerita populer yang baik oleh sejumlah narasumber.
“Akan lebih menarik jika narasi tidak terlalu banyak, biarkan pembaca yang mengamati dari dialog dan aksi para tokoh,” ujar Yozar yang juga peraih Kendal Novel Award 2022 lalu.
Yozar masih menyoroti dari aspek narasi terkait sudut pandang. Dari pengalaman membaca novela setebal 97 halaman ini, Yozar mengaku hingga halaman akhir, dirinya tak bisa menebak siapa yang menceritakan kisah Sora, saudara, teman, dan tokoh lainnya. Sosok narator mengaku beberapa kali bahwa mereka bisa hadir dan menyaksikan tetapi tidak dapat dilihat maupun berinteraksi dengan para tokoh.
“Apakah dia jin, malaikat, atau makhluk lain? Yang pasti narator menyebut diri sebagai “kami”. Pada umumnya, kami ini bisa mengetahui tindakan, pikiran, atau perasaan para tokoh,” tuturnya.
Namun, menurut Yozar, ada di satu adegan, narator kami ini mengaku tidak bisa membaca atau mengungkapkan perasaan Raya. “Sudut pandang kami yang tak kasat mata ini mungkin, ya, bagian dari style atau gaya kepenulisan sang pengaran untuk mewujudkan suatu karya yang bersifat sastrawi,” kata penulis novel Di Antara Kau dan Dia, Selestia dan Penjara Teka-teki, UNYUversitas, Cewek-cewek Kos, Ikatan Setan: Banaspati, Ikatan Setan: Boneka Pembawa Sial, dan (masih) Menanti.
Tema Feminisme
Menurut Yozar, dalam novel Soraya, Iin Farliani mengusung feminisme. Tema feminisme sampai saat ini masih seksi, dan nampaknya novela ini pun menggunakan tema ini dengan memunculkan bahasan mengenai diksi maskulin dan diksi feminin. Namun, nampaknya pengarang masih malu-malu untuk menegaskan terkait perlawanan patriarki dalam novela ini karena saya tidak menemukan Sora, perempuan yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini mengambil keputusan bahwa sosok laki-laki yang keras atau lembut yang lebih dipilih baginya.
Berkait dengan perkembangan karakter tokoh-tokohnya. Yozar menuturkan, dalam suatu kisah, perkembangan karakter acapkali menjadi sorotan. Pertemuan dengan karakter lain, berbagai macam kejadian, dan pergumulan dalam batin dapat membuat suatu karakter berkembang. “Senang bagi saya sebagai penonton atau pembaca bisa menyaksikan satu tokoh yang tadinya malu-malu menjadi sosok yang lebih terbuka, atau bahkan tegas,” kata Yozar.
Meski demikian, menurut Yozar, mengacu pada Youtuber Shaelin dalam Chanel Reedsy, suatu karya sastra tak harus memunculkan perkembangan karakter para tokohnya. Akan tetapi, bisa menampilkan atau mengisahkan pergulatan batin dari para tokoh, melihat bagaimana mereka memandang hidup, melihat cara pikirnya, mengetahui apa yang dirasakannya.
“Terlebih, novela ini dimaksudkan dalam sayembara genre psikoteks. Jadi, pergumulan batin, apa yang ada di pikiran seseorang, mungkin menjadi penekanan di sini sebagai suatu karya sastra psikoteks,” jelasnya.
Ending yang Menggantung
Di akhir catatan, Yozar memberi catatan seputar bagaimana pengarang menutup cerita atau ending. Ia berpandangan, sebagai penggemar cerita populer, dirinya tidak bisa berespektasi banyak–seperti apakah Sora cenderung memilih laki-laki dengan karakter tegas seperti Raya, kakaknya yang malah hancur dan rusak jiwanya, ataukah laki-laki yang memilih sifat keraguan dan kekakuan seperti Danna—teman masa kecilnya yang kini beranjak remaja.
“Lalu, bagaimana nasib Raya?” Yozar mencoba bertanya. “Apakah dia bisa waras dan segera keluar dari rumah sakit Jiwa? Apakah bapaknya yang dipecat dari tentara masih akan bersikap keras pada Raya begitu putranya itu kembali ke rumah? Tak pernah diceritakan sekalipun sang ayah menengok putranya di RSJ. Begitu juga nasib Danna, apakah dia bisa mengungkapkan perasaannya pada Raya? Karena ending novel ini pun menggantung—ternyata Raya tidak jadi menjemput Danna di bandara,” tuturnya.
Yozar menyampaikan, espektaasinya dalam suatu cerita adalah adanya resolusi, akhir nasib dari para karakter. Ada masalah dan ada solusinya. Ia mencontohkan, di cerita Harry Potter, masalah Voldemort selesai begitu pangeran kejahatan itu dihancurkan. Begitu pun di bidang non-fiksi, pada skripsi mahasiswa misalnya, penelitian mahasiswa, wajib ada hipotesis atau semacam pemecahan masalah.
“Kalaupun mahasiswa tidak bisa mengatasi masalah dari hal yang ditelitinya, setidaknya dia bisa mengusulkan kesimpulan dan saran,” ujarnya.
Namun, lanjut Yozar, yang ia tangkap dengan merujuk pada penjelasan youtuber Shaelin terkait literary fiction, salah satu ciri khas dari karya sastra yaitu ending yang menggantung. “Apakah yang seperti ini yang dianggap menarik? Bahwa pembaca dibiarkan menginterpretasikan atau mencari endingnya sendiri? Saya kira, semua bergantung pada sidang pembaca,” tandas Yozar. (her)
