Tangis Haru Sukinem: Berkat MBG, Omzet Pabrik Tahu Miliknya Naik Dua Kali Lipat

Baca Juga

JATENGINSIGHT.COM – Di sebuah Desa Sumberejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar, aroma kedelai yang direbus menguat sejak pagi buta. Di sanalah Sukinem (67) menjalani hari-harinya di antara tungku, cetakan tahu, dan harapan yang ia rajut sejak puluhan tahun silam.

Usaha tahu miliknya yang diberi nama ‘Ngudi Rejeki’ bukanlah usaha instan yang tumbuh dalam semalam. Perjalanan itu dimulai dari langkah-langkah kecil yang sederhana.

Tahun 1997, Sukinem hanya membantu saudaranya, mengangkut tahu dari satu ember ke ember lain, membawanya ke pasar. Tak ada bayangan besar kala itu, hanya keinginan untuk bertahan hidup.

“Awalnya bawa satu ember-satu ember ke pasar,” kenangnya pelan

Dari pengalaman itulah, keyakinannya tumbuh. Hingga akhirnya pada tahun 2003, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri. Dengan peralatan sederhana dan tenaga terbatas, ia mulai memproduksi tahu di rumahnya.

Baca Juga:  El Nino Datang, Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Pangan

Kini, dapur produksinya menghasilkan beragam jenis tahu, mulai dari tahu putih, tahu goreng asin, tahu bulat, tahu bakso, hingga tahu sayur. Namun di antara semuanya, tahu pong dan tahu putih tetap menjadi primadona yang paling diminati.

Perjalanan usaha Sukinem tidak selalu mulus. Ada masa ketika penghasilannya hanya cukup untuk bertahan. Sebelum adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), omzet hariannya berkisar di angka Rp4 juta.

Jumlah yang bagi sebagian orang mungkin terlihat besar, tetapi bagi usaha produksi kecil seperti miliknya, itu adalah batas tipis antara cukup dan kekurangan.

Baca Juga:  Prabowo Berikan 90.000 Hektare Izin Pemanfaatan Hutan untuk Konservasi Gajah Sumatra

Perubahan besar datang ketika ia mulai memasok kebutuhan ke dapur MBG. Kini, dalam sekali pengiriman, ia bisa menyuplai antara 7.000 hingga 9.000 biji tahu per hari. Produksinya pun meningkat drastis, dari sekitar 2,5 kuintal per hari menjadi hampir 4 kuintal.

Omzetnya ikut melonjak. Dari Rp4 juta, kini mendekati Rp8 juta per hari.

“Lumayan lah, untuk orang produksi sangat kecil ini, sangat tertolong,” ujarnya dengan nada syukur.

Tak hanya satu, Sukinem kini memasok ke beberapa dapur sekaligus, tiga di Sragen dan empat di Karanganyar. Pesanan pun relatif stabil, didominasi oleh tahu kempong dan tahu sayur yang bisa diolah menjadi berbagai menu.

Di balik angka-angka itu, ada kerja keras yang tak terlihat. Ada tangan renta yang tetap sigap mengolah kedelai, ada semangat yang tak padam meski usia tak lagi muda.

Baca Juga:  All in One Edutech Platform with AI:Kelas Pintar Dukung Seluruh Kegiatan Pembelajaran dengan AI

Ketika ditanya tentang harapannya, Sukinem tak banyak berkata. Namun matanya berbicara lebih dari kata-kata.

“Terimakasih Pak Prabowo, saya sudah dibantu, usaha saya bisa lancar,” ucapnya terbata.

Air matanya jatuh perlahan. Ia mengusapnya, tetapi tak mampu menyembunyikan rasa haru yang begitu dalam.

Di dapur kecil itu, Sukinem membuktikan bahwa ketekunan bisa mengubah nasib. Bahwa dari ember-ember sederhana yang dulu ia angkut ke pasar, kini lahir ribuan tahu yang menghidupi lebih dari sekadar dirinya sendiri.

Dan di antara asap tungku yang terus mengepul, harapan Sukinem itu masih terus menyala.

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini