Gus Muhamad Rikza Saputro Raih Gelar Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Baca Juga

JATENGINSIGHT.COM- Dr Muhamad Rikza Saputro, S.Pd, M.Pd, MM, MH berhasil meraih gelar doktor bidang PAI dari Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (01/07). Hal itu usai ia menyelesaikan ujian terbuka promosi doktor yang berlangsung pukul 09.00 hingga 11.00 WIB di Aula Pertemuan Lantai 3 Gedung PPG FITK UIN Sunan Kalijaga, Sambilegi, Maguwoharjo, Sleman.

Gus Rikza, panggilan akrab Dr Muhamad Rikza Saputro, berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Revitalisasi Pendidikan Agama Islam. Untuk Pemberdayaan Santri dan Masyarakat (Studi Kasus di Pondok Pesantren Askhabul Kahfi Semarang).”

Gelar doktor bagi Gus Rikza yang juga kepala Madrasah MTs Askhabul Kahfi itu, menjadi pencapaian akademik yang membanggakan tidak hanya bagi dirinya tetapi juga keluarga besar, para guru, sahabat, santri, serta masyarakat yang selama ini memberikan dukungan sepanjang perjalanan intelektualnya.

Putra dari Bapak H. Tumino dan Ibu Kustirah, sekaligus menantu Prof Dr (HC) KH Masruchan Bisri dan Ibu Nyai Hj Umi Salamah Barokah Al-Hafidzah ini menegaskan gelar doktor merupakan buah dari perjuangan panjang. Di mana ini diiringi doa orang tua, bimbingan para masyayikh, serta dukungan keluarga dan berbagai pihak.

Di hadapan tim penguji yang terdiri dari para akademisi dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, promovendus  M Rikza Saputro, berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para penguji secara lugas.

Sidang terbuka dipimpin oleh jajaran akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yakni Prof Dr H Sukiman, Sag, M.Pd sebagai Ketua Sidang sekaligus Ketua Program Studi. Kemudian, Prof Dr Zainal Arifin, M.S.I sebagai Sekretaris Sidang. Tim promotor terdiri atas Prof Dr Mahmud Arif, M.Ag dan Prof Dr Sembodo Ardi Widodo, M.Ag. Adapun penguji eksternal yakni Dr Ali Muhdi, M.S.I (UIN Saizu Purwokerto) didampingi para penguji internal, yaitu Prof Dr Marhumah, M.Pd, Dr Sedya Santosa, SS, M.Pd, dan Dr Nur Hidayat, M.Ag.

Menurut Ketua Sidang Ujian Terbuka, Prof Dr Sukiman, dengan mempertimbangkan jawaban promovendus atas pertanyaan dan keberatan para penilai dalam ujian tertutup pada  10 Februari 2026. Dan, setelah mendengarkan jawaban promovendus atas pertanyaan dan sanggahan para penguji dalam ujian terbuka.

“Maka, kami menyatakan, promovendus Muhammad Rikza Saputro, S.Pd, M.Pd, MM, MH, lahir di Kendal tanggal 5 Mei 1995, lulus dengan predikat pujian atau cumlaude. Kepada saudara diberikan gelar doktor ilmu PAI dengan segala hak dan kewajiban yang melekat atas gelar tersebut,” ujar Prof Sukiman yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan hadirin yang menyaksikan prosesi sidang.

Baca Juga:  Artefak Berusia 134 Tahun Lengkapi Memori Sejarah Kota Semarang

Menurut Prof Sukiman, Gus Rikza merupakan doktor ke-40 dari Program Studi Doktor PAI FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.  

Dalam disertasinya, Gus Rikza mengangkat isu strategis mengenai revitalisasi PAI sebagai respons terhadap berbagai tantangan sosial-keagamaan kontemporer. Penelitian ini berangkat dari realitas meningkatnya krisis moral dan karakter, menguatnya individualisme sosial, disrupsi teknologi, munculnya sikap intoleransi, serta melemahnya fungsi sosial PAI dalam kehidupan masyarakat modern.

Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini menawarkan upaya revitalisasi Pendidikan Agama Islam agar tetap relevan, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pemberdayaan masyarakat.

Tawarkan Kontribusi Penting bagi Pengembangan PAI

Penelitian yang dilakukan Gus Rikza di PP Askhabul Kahfi menawarkan kontribusi penting bagi pengembangan PAI di Indonesia. Di tengah tantangan perubahan sosial, krisis moral, hingga perkembangan teknologi, penelitian tersebut menghadirkan paradigma baru yang berpijak pada nilai-nilai budaya pesantren.

Gus Rikza dalam paparannya saat ujian terbuka menjelaskan, paradigma baru tersebut tetap relevan menjawab kebutuhan masyarakat modern. Penelitian tersebut menghasilkan empat kebaruan (novelty) yang menjadi kontribusi akademik dalam pengembangan Pendidikan Agama Islam, yaitu:

Pertama, Revitalisasi Pendidikan Agama Islam Berbasis Budaya Pesantren.

Kedua, Integrasi Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Sosial.

Ketiga, Moderasi Beragama Berbasis Budaya Pesantren.

Keempat, Revitalisasi Pendidikan Agama Islam sebagai Konstruksi Sosial-Keagamaan.

Menurut Gus Rikza, keempat konsep tersebut menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman. “Namun juga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, penguatan karakter, pengembangan moderasi beragama, hingga transformasi sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin,” ujarnya.

PP Askhabul Kahfi sebagai Objek Penelitian

Putra dari Bapak H. Tumino dan Ibu Kustirah, sekaligus menantu Prof. Dr. (HC) KH. Masruchan Bisri dan Ibu Nyai Hj. Umi Salamah Barokah Al-Hafidzah ini menegaskan gelar doktor merupakan buah dari perjuangan panjang. Di mana ini berkat doa orang tua, bimbingan para masyayikh, serta dukungan keluarga dan berbagai pihak.

Dalam paparan  di hadapan penguji, Gus Rikza menuturkan, ada banyak pertimbangan mengapa dirinya memilih PP Askhabul Kahfi (PP Aska). Dari banyak pesantren di Indonesia, menurutnya, PP Aska merupakan salah satu pesantren yang menunjukkan dinamika revitalisasi Pendidikan Agama Islam dalam berbagai aspek kehidupan.

“Pesantren ini tidak hanya mengembangkan pendidikan formal dan diniyah, tetapi juga melakukan berbagai penguatan dalam bidang pembentukan karakter, pemberdayaan ekonomi, dakwah masyarakat, dan moderasi beragama,” ujar suami dari Neng Faiza Alya Aziza ini.

Baca Juga:  Wali Kota Agustina Siapkan Generasi Muda Tangguh Hadapi Era Global, Dorong Kader HMI Jadi Pemimpin dan Pencipta Lapangan Kerja

Menurutnya, berbagai program pendidikan dan sosial yang dijalankan di PP Aska  menunjukkan adanya integrasi antara pendidikan agama dengan pemberdayaan santri dan masyarakat secara lebih luas.

“Kondisi tersebut menjadikan PP Askhabul Kahfi Semarang menarik untuk dikaji sebagai model revitalisasi Pendidikan Agama Islam berbasis pesantren. Jadi, bukan semata karena saya juga berada di sini, tetapi karena memang pertimbangan profesional,” ujar Rikza.

Gus Rikza menjelaskan, penelitian mengenai pesantren, Pendidikan Agama Islam, maupun pemberdayaan masyarakat memang telah banyak dilakukan oleh para peneliti sebelumnya. Akan tetapi, sebagian besar penelitian masih dilakukan secara terpisah dan tidak menyeluruh.

Ia mencontohkan, penelitian tentang Pendidikan Agama Islam umumnya lebih fokus pada aspek pembelajaran dan kurikulum. Sementara itu, penelitian tentang pesantren banyak menyoroti aspek tradisi keilmuan atau manajemen kelembagaan. Penelitian tentang pemberdayaan masyarakat cenderung menekankan aspek ekonomi dan sosial dan terpisah dari konstruksi pendidikan agama islam.

“Penelitian yang secara khusus mengkaji revitalisasi Pendidikan Agama Islam dalam integrasinya dengan pemberdayaan santri dan masyarakat melalui aspek kurikulum, metode pembelajaran, pembentukan karakter, pemberdayaan ekonomi, dakwah masyarakat, dan moderasi beragama secaa komprehensif masih relatif terbatas,” jelasnya.

Berdasarkan uraian tersebut, menurut Gus Rikza, penelitian ini penting untuk dilakukan guna mengkaji secara mendalam bagaimana  revitalisasi  PAI dilaksanakan di PP Aska Semarang. Tentang bentuk implementasinya dalam pemberdayaan santri dan masyarakat, serta bagaimana implikasinya terhadap penguatan fungsi sosial pesantren dalam menghadapi dinamika masyarakat modern.

“Penelitian ini diharapkan mampu memberikan  kontribusi teoritis dalam  pengembangan konsep revitalisasi PAI berbasis pesantren, sekaligus memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan model pendidikan Islam yang integratif, transformatif, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat,” harap Gus Rikza.

Apresiasi Tokoh: Sumbangsih bagi Dunia Pendidikan

Kementerian Agama Kota Semarang mengapresiasi hasil penelitian disertasi Gus Rikza. Hal itu disampaikan H. Tantowi Jauhari mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, di temui di sela-sela ujian terbuka promosi doktor Gus Rikza. Tak lupa, ia pun menyampaikan, selamat dan sukses atas gelar doktor yang dicapai Gus Rikza dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Semoga dengan penambahan ilmu ini, bisa menjadikan tambah manfaat untuk pondok pesantren. Bisa lebih mengembangkan PP Aska. Dan, kami tunggu kiprah-kiprah selanjutnya di lembaga-lembaga yang ada di Kementerian Agama,” ujar Tantowi Jauhari di sela-sela acara.

Terkait dengan tema revitalisasi PAI  yang diusung dalam disertasi Gus Rikza, Tantowi sangat mendukung. Pendidikan Agama Islam memang perlu ditata ulang. Hal itu senada dengan hasil penelitian yang dilakukan koleganya, seorang pengawas yang juga mengambil studi doktoral. Isu yang diteliti adalah nilai agama Islam di sekolah umum sangat merosot.

Baca Juga:  Kunjungan Wisman ke Indonesia Tetap Tumbuh di Tengah Dinamika Global

Menurut Tantowi, revitalisasi PAI sangat dibutuhkan, baik bagi  lembaga formal di lingkungan kementerian agama maupun di sekolah umum.  “Memang harus direvitalisasi, dirumuskan ulang, pendidikan agama itu seperti apa. Tidak hanya sekadar indoktrinasi. Harus ada pendekatan-pendekatan yang lain dan itu sangat luar biasa sekali. Penelitian Gus Rikza ini menjadi sumbangsih bagi dunia pendidikan karena  ilmu butuh pengembangan,” tutur Tantowi.   

Senada, sebelumnya, dalam ujian, Selaku promotor utama, Prof  Dr Mahmud Arif, menyampaikan apresiasi atas capaian akademik promovendus. Menurutnya, disertasi ini memiliki kontribusi yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga aplikatif dalam menjawab tantangan pendidikan Islam dewasa ini.

Menurutnya, penelitian ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki kapasitas yang sangat kuat sebagai pusat transformasi sosial. Revitalisasi PAI tidak cukup dipahami sebagai pembaruan kurikulum semata, tetapi harus diwujudkan melalui penguatan budaya pesantren, keteladanan, pemberdayaan ekonomi, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Inilah nilai penting yang ditawarkan disertasi ini,” tutur Prof Dr Mahmud Arif.

Sementara itu, penguji eksternal Dr Ali Muhdi, mengapresiasi kedalaman analisis dan keluasan data empiris yang disajikan dalam penelitian tersebut. Menurutnya, penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan paradigma PAI yang lebih transformatif.

“Disertasi ini memperlihatkan bagaimana PAI mampu melampaui fungsi pembelajaran di kelas. Pendidikan agama dapat menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat melalui penguatan karakter, moderasi beragama, dan kemandirian ekonomi. Perspektif seperti ini sangat relevan dengan tantangan masyarakat Indonesia saat ini,” ujarnya.

Turut Dihadiri Berbagai Tokoh & Pejabat

Sidang terbuka turut dihadiri tokoh nasional, ulama, akademisi, pimpinan lembaga pendidikan, keluarga besar, serta lebih dari 300 tamu undangan. Di antaranya Dr KH Muchotob Hamzah, MM, Dr Drs H Anashom, M.Hum, Dr. H. Moch. Fatkhuronji, S.Ag, M.Pd.I, Hj. Fajriyatul Muflihah, M.Pd, H. Muhtasit, S.Ag, M.Pd., H. Tantowi Jauhari, S.S., KH. Asikin, S.Ag., M.S.I., Hj. Khoirun Nisa’, M.S.I., KH. Nadlirin, M.Pd.,

Selain itu, sejumlah organisasi, lembaga, dan komunitas juga turut hadir. Di antaranya keluarga besar Pondok Pesantren Askhabul Kahfi Semarang, FKPP Kota Semarang, PC RMI NU Kota Semarang, KKM MTs Kota Semarang, IGMAKOS Kota Semarang, Askot Kota Semarang, PSIS Semarang, Panser Biru, Snex, serta keluarga besar Penerbit Dawuh Guru Yogyakarta. (her/tim) 

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini