“Empat Jam Api di Boja” Antarkan Intan Tika Sari Raih Kendal Cerpen Award 2025

Baca Juga

JATENGINSIGHT-Cerita pendek (cerpen) berjudul “Empat Jam Api di Boja” antarkan Intan Tika Sari (23) meraih anugerah Kendal Cerpen Award (KCA) 2025. Atas capaian itu, Intan yang berasal dari Dusun Kemiri Ciut RT 02 RW 03 Desa Singorojo Kecamatan Singorojo Kendal Jawa Tengah ini,berhak membawa pulang seekor kambing betina peranakan Etawa sebagai hadiah juara 1 beserta paket hadiah lainnya dari panitia.

Capaian Intan diumumkan oleh Perwakilan Dewan Juri, Sawali Tuhusetya, pada Penganugerahan KCA 2025, Minggu (26/10) siang, yang diselenggarakan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalireyeng Kebondalem  Kendal. KCA 2025 diselenggarakan secara gotong royong oleh Komunitas Lerengmedini (KLM) Boja, Sangkar Arah Pustaka Kangkung, Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) Kaliwungu, dan Jarak Dekat Art Production Kangkung.

Intan, perempuan kelahiran Kendal, 9 Mei 2002 ini, tercatat saat ini sedang menempuh kuliah pada Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Terbuka. Ia sama sekali  tak menyangka, naskah yang mengusung peristiwa sejarah Bumi Hangus Boja pada tahun 1947 itu menarik dewan juri. Bahkan, ia mengaku, mengirim cerpennya, di hari akhir masa pengiriman cerpen.

“Sama sekali gak nyangka bisa juara. Karena yang saya pikirkan penting ikut buat pengalaman dan tidak terlalu berharap juara. Terima kasih buat penyelenggara KLA 2025,” kata lulusan SMAN 1 Boja tahun 2020.

Saat ditanya, kambing hadiah ini akan diapakan? Intan menjawab dengan tersenyum, akan dipelihara karena kebetulan ayahnya juga  memelihara kambing di rumah. “Kambing bapak yang dipelihara ada 8. Nanti yang kambing etawa ini, biar sekalian diingoni bapak,” ujar Intan semringah.

Intan, saat ini, di sela-sela kuliah di UT, juga nyambi bekerja sebagai penjaga toko (pramuniaga) di Toserba Margo Mulyo Bebengan Boja. Ide cerpen berlatar sejarah kisah heroik para pemuda melawan Belanda dalam pertempuran 4 jam di Boja ini terinspirasi dari cerita gurunya dahulu saat sekolah. Dari itu, ia kemudian menggali ide dengan melakukan riset, membaca artikel dan  jurnal sejarah yang memuat informasi tentang Peristiwa Bumi Hangus Boja yang terjadi pada akhir Juli 1947.

Baca Juga:  Kejati Jateng Batah Isu OTT Pengelola SPPG

“Motivasi saya menulis cerpen sejarah ini untuk memotivasi agar semua orang paham sejarah. Misalnya, di Boja ada sejarah persitiwa bumi hangus Boja tahun 1947. Orang-orang Boja banyak yang tak tahu sejarah itu,” harap cerpenis yang mengidolakan sosok sastrawan Sapardi Djoko Damono ini.  

Selengkapnya, daftar juara dan harapan KCA 2025, yakni:  Juara 1 : Intan Tika Sari (Empat Jam Api di Boja) total nilai 257; Juara 2 : Muhammad Fauzi asal Kaliwungu dengan (Jan) total nilai 250; dan Juara 3 : M. Abdul Daffa asal Kaliwungu (Bayangan Hitam di Pabrik Gula) total nilai 248. Sementara, untuk naskah apresiasi Dewan Juri: naskah Pilihan Juri 1 : Abdullah Khanif (Mata Hati) total nilai 245, dan naskah Pilihan Juri 2 : Sabrina Aulia Muslimah (Dahana) total nilai 240.

Dewan juri dalam sayembara ini terdiri dari: Sawali Tuhusetya (cerpenis/guru), Arif Fitra Kurniawan (cerpenis/penyair/esais), dan Heri CS (jurnalis/ pegiat literasi).

Para pemenang masing-masing mendapatkan apresiasi: Juara I: seekor kambing betina peranakan etawa, plakat, piagam penghargaan, paket buku, dan paket kain;  Juara II: seekor cempe (anak kambing), plakat, piagam penghargaan, paket buku, dan paket kain; dan Juara III: sepasang ayam, plakat, piagam penghargaan, paket buku, dan paket kain. Dua naskah yang mendapat Apresiasi Dewan Juri, mendapatkan seekor bebek, plakat, piagam penghargaan, paket buku, dan paket kain.

Menurut Ketua Panitia KCA 2025 M. Lukluk Atsmara Anjaina, karya Intan berhasil mengungguli 16 peserta lain yang berasal dari berbagai kecamatan di Kendal. Keenambelas peserta yakni: Abdullah Khanif, Arga Putra Waskita, Asva Maulida, Dewi Azzahroh, Dwi Purwanti, Eka Putra Arfiandi, Fidelya Ata, Intan Aurelia, Karunia Kamila Syifa, M. Abdul Daffa, M. Azka Ulin Nuha, Muhamad Fauzi, Muhammad Irhamni Sabil, Rendi Raditya Pratama, Sabrina Aulia Muslimah, dan Zulfania Mustakaningrum.

Baca Juga:  Wali Kota Agustina Siapkan Generasi Muda Tangguh Hadapi Era Global, Dorong Kader HMI Jadi Pemimpin dan Pencipta Lapangan Kerja

“Hajatan KCA 2025 ini tercatat sebagai sayembara yang kami selenggarakan dengan jumlah peserta terbanyak. Harapan kami, ke depan, semakin banyak peserta yang ikut dalam sayembara serupa ke depan,” ujar Lukluk yang juga sekretaris Pelataran Sastra Kaliwungu.

Tak lupa, Lukluk, mewakili segenap kerabat kerja penyelenggara menyampaikan terima kasih pada banyak pihak yang mendukung kegiatan ini.

Berharap Jadi Tonggak Lahirnya Para Cerpenis

Sementara itu, Sawali Tuhusetya, menyatakan, untuk pertama kalinya, sebuah event lomba allias kompetisi yang dinilai cukup bergengsi dan prestisius di ranah sastra digelar di Kabupaten Kendal, yakni Kendal Cerpen Award 2025.

“Sebagai bagian dari masyarakat pencinta sastra, tentu saya menyambut gembira event itu. Dan, tentu saja event ini sekaligus juga menjadi pemantik buat penggagas dan panitia agar tetap konsisten dalam menjaga dan merawat marwah Sayembara Wedus Kendal Award,” ujar cerpenis yang karya-karyanya dibukukan dalam Antologi Cerpen Topeng ini.

Sawali mengapresiasi ke-17 naskah para peserta. Terlepas dari masih adanya kelemahan karya sebagian peserta, itu adalah bagian dari proses masing-masing. Ia berharap, ke depan, mereka tak berhenti di sini. Terus berkarya.

Menurut Sawali, angka keramat “17” cerpen peserta ini, diakui atau tidak, telah menjadi tonggak dan entry-point lahirnya cerpenis-cerpenis muda di Kendal. Kehadiran 17 cerpenis muda ini tentu perlu kita apresiasi dan sambut gembira. Di tengah situasi peradaban yang makin pongah dan kurang ramah terhadap sastra, termasuk cerpen, kehadiran 17 cerpenis ini diharapkan mampu menjadi penjaga peradaban yang akan terus merawat dan mengeksplorasi total terhadap nilai-nilai kearifan lokal melalui teks-teks cerpen yang “liar” dan mengejutkan.

Baca Juga:  Wali Kota Agustina Apresiasi GP Ansor, Panen Raya Jagung Jadi Bukti Pemuda Mampu Perkuat Ketahanan Pangan

“Sehingga Kendal tidak larut menjadi “Indonesia” yang tertinggal dalam ranah sastra, bahkan kebudayaan,” tandas cerpenis dan pensiunan guru ini.

Diisi dengan Gelar Seni Budaya Kalireyeng

Acara penganugerahan KCA 2025 juga diisi dengan pentas anak-anak dari TBM GenZi dan Kelompok Bermain Warna Pelangi. Mereka antara lain, mementaskan: Tari Kodok: Tifa, Arsy, El, Rumaisha, Dira, Ata; Barongan: Bumi, Danu, Hafiz, Dzaky, Quenzy, Arsyad, Safin, Andra, Revan, dkk; Macapat: Zehna dan Sandi; Geguritan: Hatta; Karya lukis: Abi, Aban, Aim, Salma, Elsi, Rafael, Yalta,  Nana, Alfara; tari: Habibah dan Syarifah, serta baca puisi: Alfara dari SDN 1 Gemuhblanten.

“Ini merupakan bagian dari Gelar Seni Budaya Kalireyeng Bright Future “Aku Suka dan Aku Bisa.” Harapannya, mampu menciptakan ruang bagi anak-anak, generasi muda, dan seniman lokal untuk berkarya memperkaya kehidupan seni di masyarakat di kawasan Kalireyeng,” ujar Ketua TBM GenZi, Khalyun Dwi Kusumaningrum.

Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Kendal, Wahyu Yusuf Akhmadi, turut mengapresiasi kegiatan KCA 2025 ini. Ia berharap kegiatan semacam ini terus tumbuh dan hadir. Kegiatan sastra semacam ini juga menjadi bagian dalam upaya meningkatkan tingkat literasi.

“Kita ketahui, tingkat literasi masyarakat Indonesia masih rendah. Dan, KCA ini menjadi bagian dari literasi kebudayaan. Literasi tak hanya baca tulis, numerasi, sains, digital, atau finansial. Ada literasi budaya. Saya berharap para penggagas terus gelisah dan turut bergerak meningkatkan literasi di Kendal,” ujarnya. (her/tim)

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini